Agar Ananda Memilih Teman yang Baik di Manapun (1)

///Agar Ananda Memilih Teman yang Baik di Manapun (1)

 

Suatu sore berkunjung seorang ibu dan anak gadisnya yang duduk si SMA.

Dalam sms nya, ibu mengeluhkan pergaulan ananda yang menurut ibu tidak baik. Teman-teman ananda dimata ibu sangat negatif: tidak sopan cara berpakaiannya, bukan anak pandai di sekolah, tidak sholat dan sering ke di mall.

Begitu dipersilahkan bicara, dengan semangat ananda bercerita, “Tau ngga Bu, hal yang paling nyebelin tuh mama sering usil tentang teman-teman saya. Jangan berteman denga si A, cara dandanannya berelebihan, jangan si B, waktu sholat masih  ngobrol….  Jangan juga denga si C, masih SMA koq pacaran…..  itu temen saya, bukan saya. Kebayang kan Bu ?”

“Dan jika ada teman saya kerumah,  begitu mereka pulang, mama akan memberondong saya dengan pertanyaan, dia sholat kan? Siapa orang tuanya? Rangking ga disekolah?…. rempong kan Bu? Makanya sebenarnya yang perlu nemuin ibu bukan saya, tapi mama”

“Mama kan hanya ingin kamu punya pergaulan yang baik, teman-teman yang baik. Semua ini demi kepentingan kamu sayang” mama berusaha tersenyum sambil memegang pundak ananda.

“Memangnya teman mama baik semua? Itu tante X tukang gossip, tante Y dandanannya menor masih juga mama temenin…”.

Mengapa Anak Kita harus punya teman-teman yang baik?

Berada dilingkungan yang baik adalah salah satu syarat penting pembentukan perilaku yang baik. Semua orang tua mafhum bahwa sebaiknya ananda dipastikan berada di tempat yang baik. Inilah sebabnya mengapa sekolah SDIT, SMPIT dan sekolah agama yang fullday school menjadi incaran banyak orang tua.

Pepatah mengatakan, berteman dengan penjual minyak wangi akan ikut mencium wanginya dan berteman dengan pembakar sampah akan ikut mencium baunya. Artinya betapa pentingnya teman.

Bahkan Umar bin Khotob mengatakan, jika ingin tau siapa seseorang, maka lihatlah siapa temannya. Karenanya memang perlu dikondisikan agar anak kita terbiasa dan merasa nyaman bergaul dengan teman-teman yang baik.

Jadi masalah pentingnya anak kita berada ditengah teman-teman yang baik bukan hal yang diperselisihkan lagi. Hanya mungkin masalah cara.

Orang tua seringkali sangat fokus pada menseleksi, mengomentari dan menilai teman ananda. Akibatnya membuat ananda merasa tidak dipercaya, dimonitor dan diatur.

Untuk anak usia remaja, teman atau kelompoknya mempunyai arti sangat penting, sehingga biasanya ananda akan membela sekuat tenaga jika temannya dikritik oleh orang tua. Karena teman, bagi remaja adalah harga diri. Maka seringkali kita mendemgar ananda menjawab

“mama selalu su’uzhon”

“Mama bawaanya curigaan”

“mama ga ngerti, dia baik tau “

Yang Sebaiknya orang tua lakukan   

Memilih teman melibatkan pemahaman dan rasa. Pemahaman dan rasa ini adalah transfer nilai dari orang tua kepada ananda dengan dialog terus menerus. Baik dengan cerita sejak ananda sekecil mungkin, dan dengan contoh. Pendeknya hasil dari pola asuh.

Paham saja, belum cukup untuk membuat ananda melakukan sesuatu dengan senang hati. Ananda juga harus melihat contoh nyatanya. Jika otang tua ingin ananda sholat tepat waktu, maka otang tua dulu yang melakukannya. Demikian juga dengan memilih teman. Jika kita ingin ananda memiliki teman-teman dekat yang sholeh, maka kita dulu yang mencontohkannya.

Kenalkan teman kita kepada ananda, terangkan apa kelebihannya mengapa kita bersahabat dengannya. Jika dijalan kita ketemu teman sekolah yang mungkin menurut kita kurang baik, kita kenalkan juga kepada ananda,

“Ini tante A, teman mama di sekolah. Kasih salam ya”

Nanti begitu di rumah, kita terangkan bahwa mama tidak dekat dengannya karena ia suka kasar, suka bolos sekolah blab la bla….

Hal ini mengajarkan ananda dua hal,

Pertama, teman tidak baik tidak pantas dijadikan teman dekat

Kedua, walau dia tidak baik, sebagai teman kita tetap ramah dan menghormatinya.

Tidak berteman dekat bukan berarti ketus kan? (Dewi Yulia)

2019-10-24T11:38:31+07:00