Generasi Home Service

///Generasi Home Service

Generasi home service adalah generasi yang memiliki kebiasaan kurang baik, mereka selalu minta dilayani untuk memenuhi kebutuhan atau keinginannya. Hal ini terjadi pada anak-anak yang hidupnya selalu dilayani oleh orang tuanya atau orang yang menjaganya, seperti Asisten Rumah Tangga (ART) atau baby sitter yang selalu berada di samping sang anak untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam istilah Al Quran, mereka termasuk dzurriyatan dhi’afa (generasi lemah). Lemah dalam kemandirian, lemah dalam menghadapi tantangan kehidupan.

Contoh kecil saja, membuka bungkus permen. Karena terbiasa ada ART atau baby sitter, anak dengan mudahnya menyuruh mereka membukakan bungkusnya. Anak tidak dibiarkan mencari solusi sendiri dan berusaha dulu, misalnya mencari gunting.

Contoh lain memakai kaus kaki dan sepatu. Karena tak sabar melihat anak mencoba memakai sepatunya sendiri maka orang dewasa yang di sekitarnya buru-buru memakaikan kepada anak. Saat anak sudah bisa makan sendiri, orangtua juga seringkali masih menyuapi karena berpikir jika tidak disuapi makannya akan lama dan malah tidak dimakan.

Padahal jika anak dibiarkan tidak makan, maka anak tidak akan pernah merasa apa namanya lapar. Dan saat lapar datang seorang anak secara otomatis pasti akan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Bagaimana dia akan belajar makan sendiri jika dia tidak pernah merasakan apa itu namanya lapar?

Membantu anak dalam aktivitasnya bukanlah suatu hal yang keliru, melainkan akan menjadi keliru apabila orang tua selalu melayani kebutuhan sang anak, bahkan terlalu mengandalkan ART atau baby sitter dalam menjaga anaknya tanpa mengontrolnya sendiri. Orang tua tidak boleh terlalu membiasakan anak mendapatkan yang diinginkan dengan mudah. Anak dilatih untuk terbiasa berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan sesuatu sebab itu akan membuat mereka kelak tumbuh menjadi anak yang mandiri.

Bagaimana mengajarkan anak agar mereka tumbuh menjadi anak yang mandiri dan jauh dari generasi home service?

  1. Biasakan Anak Tumbuh dengan Tantangan

Mengutip dari perkataan seorang Psikolog dari Stanford University, Carol Dweck, beliau menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, “Hadiah terpenting dan terindah dari orang tua pada anak-anaknya adalah tantangan.” Permasalahannya ialah tak semua orang tua terbiasa memberikan ‘hadiah cantik’ itu kepada anaknya. Dapat dilihat bahwa saat ini begitu banyak orang tua yang ingin segera menyelesaikan dan mengambil alih masalah anak, bukan justru memberikan tantangan kepada anaknya sebagai cara untuk mendidik mereka.

  1. Latih anak mandiri sejak dini

Melatih anak toilet training, mandi sendiri, pakai baju sendiri dan pakai sepatu sendiri akan membuat anak lebih mandiri. Toilet training bisa dilakukan pada usia 2-3 tahun, bahkan kurang dari itu.

Memakai baju sendiri juga merupakan tonggak psikologis dan emosional yang penting. Motorik kasar anak terlatih saat mengangkat lengan dan kaki ketika berganti baju, motorik halus terlatih saat memakai kancing atau membetulkan resleting, kognitifnya juga terlatih dengan memahami urutan memakai baju.

Anak-anak bisa mulai dilatih memakai baju usia 2 tahun atau lebih cepat. Dimulai dari yang sederhana, dibantu memakaikan kancingnya. Tapi di usia 5 tahun, anak harus sudah bisa mengancingkan baju sendiri.

  1. Jangan terlalu banyak melarang

Setiap anak yang berada dalam masa tumbuh kembang memiliki rasa keingintahuan yang tinggi akan banyak hal sehingga seringkali membuat mereka ingin mencoba melakukannya secara leluasa. Namun, orang tua tak jarang selalu memiliki ketakutan jika hal-hal buruk akan terjadi pada anaknya jika melakukan ini dan itu. Oleh sebab itu, orang tua memberi larangan atau batasan terhadap suatu hal yang bisa membahayakan anak. Padahal, larangan hanya akan membuat sang anak takut pada banyak hal dan membuat mereka menjadi sangat bergantung pada orang tuanya.

  1. Latih anak untuk bertanggung jawab

Sejak dini, tanamkan rasa tanggung jawab kepada anak. Di usia 2-3 tahun, anak-anak perlu dilatih membereskan mainan dan merapikan bukunya. Di usia 4 tahun sudah mulai dibiasakan membereskan tempat tidur, meletakkan piring kotor di tempatnya, dan membuang sampah. Saat ia masuk sekolah, sejak saat ini harus dilatih untuk merapikan tasnya dan mempersiapkan peralatan sekolah. Saat SD, sebisa mungkin setiap ada tugas anak berusaha menyelesaikan sendiri. Kecuali hal yang memang benar-benar membutuhkan bantuan dan bimbingan orangtua.

  1. Libatkan ayah dalam mengurus pekerjaan rumah

Bagaikan spons yang menyerap banyak air dengan cepat, begitulah kira-kira gambaran otak anak. Apa yang dilakukan ayah dan ibu akan segera ia tiru. Ketika anak melihat seluruh anggota keluarga terlibat dalam mengurus pekerjaan rumah, maka ia pun menyerap nilai tanggungjawab dan terbiasa melakukannya. Jangan sampai anak memiliki pemahaman keliru bahwa seluruh pekerjaan rumah adalah tanggung jawab ibu atau pembantu.

Dan meskipun memiliki pembantu, harus ada pekerjaan tertentu yang dikerjakan oleh ayah. Misalnya mencuci piring sendiri setelah makan, menyapu dan mengepel lantai. Jangan sampai anak terbiasa tidak mengerjakan apa pun dan akhirnya saat dewasa tidak bisa melakukan apa pun.

Rasulullah mencontohkan, meskipun beliau adalah kepala negara dan manusia termulia, beliau menjahit sendiri bajunya yang sobek dan memperbaiki sendiri sandalnya.

  1. Doakan anak

Kunci yang paling utama agar anak terhindar dari generasi home service adalah doa. Mengapa? Karena pada hakikatnya, hati anak itu dalam genggaman Allah. Allah yang menguasai dan bisa membolak-balikkannya. Karenanya kita perlu memperbanyak doa kepada Allah agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang mandiri, bukan menjadi generasi home service. Dan doa orangtua ini luar biasa. Insya Allah pasti dikabulkanNya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan lagi yaitu doa orang tua, doa musafir dan doa orang yang dizholimi.”(hes50)

 

 

2022-05-30T10:23:18+07:00 69 views